16 February 2002 01:28:57
Kasih (Rindu) Tak Sampai KABAR BURUNG MIGRAN PANTAI TIMUR SURABAYA
Pengamatan Burung Migran tahun ini sebagian besar didorong oleh rasa kekangenan saya dengan burung gagang bayem Himantopus leucocephalus – burung yang menjadi inspirasi untuk kami jadikan Logo ecoton. Karena ia kami anggap sebagai Guardian Bird bagi jenis migran lainnya. Selain punya hobby terbang mengawasi sesama migran, burung ini paling keras suaranya dan proaktif memberi tanda kepada yang lainya bila ada gangguan mendekat. Dalam pengamatan kali ini entah kemana tak satu ekorpun jenis ini Menampakkan keanggunnya. Diareal tambak maupun pesisir yang menjadi tempat favorit ia tak kami jumpai.
Seperti kebiasaannya tahun lalu, Burung-burung Migran yang berasal dari daerah Utara (Eropa) di Musim penghujan seperti ini mulai berdatangan di Pantai Timur Surabaya, Mereka tidak akan lama karena mereka hanya transit di belantara Lumpur Pantai Surabaya yang kaya akan kerang dan udang. Namun Kali Ini (November – Awal Desember 2001) jumlah mereka berkurang. Iring-iringan burung berparuh khas dan bertubuh singset ini tidak seperti tahun yang lalu hanya berjumlah ratusan. Itupun serasa enggan untuk mampir.Padahal 4 tahun lalu mereka memenuhi langit Timur Surabaya, sambil berkliu-kliu-klik-kliu-kliu (siulan khas) mereka terbang beriringan dalam jumlah ratusan bahkan ribuan, naik turun diantara dahan Rhizophora mucronata, Avicennia marina, dan Sonneratia caseolaris. Kemana kau Singgah teman, Aku Rindu……..

PENDAHULUAN
Dalam konvensi Ramsar (3 Pebruari 1971) telah dihasilkan definisi tentang burung air (water fowl), yaitu jenis burung yang secara ekologis keberadaannya bergantung pada lahan basah (wetland). Jumlah burung air yang ada di seluruh dunia tercatat 32 famili yang terdiri dari 833 jenis, dan Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah jenis burung air tertinggi di dunia (Wibowo et al., 1996). Rose & Scott (1997) secara terperinci menggolongkan 184 jenis burung air yang terdapat di Indonesia di dalam 20 famili, diantaranya adalah Scolopacidae dan Charadriidae.
MacKinnon (1995) dalam buku panduan lapangan identifikasi burung, menyatakan bahwa famili Scolopacidae dan Charadriidae sebagai kelompok burung air lokal dan sebagian besar di antaranya merupakan kalompok burung air migran. Burung air migran merupakan jenis burung air yang melakukan migrasi setiap musim atau tahunan secara rutin. Hayman et al. (1988) menyatakan bahwa kelompok burung air merupakan burung-burung jenis wader yang secara rutin melakukan migrasi. Pada musim dingin di belahan bumi utara, berbagai jenis burung air migran bermigrasi sementara untuk mencari habitat yang sesuai ke belahan bumi selatan, seperti Asia Tenggara, Australia, Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Beberapa rute migrasi yang dilalui oleh beberapa jenis burung air tersebut adalah kepulauan Indonesia (Alikondra, 1993).
Kepulauan Indonesia dengan panjang garis pantai + 81.000 km merupakan garis pantai yang cukup panjang dan memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup burung air, terutama burung air migran (Kusmana, 1996). Alikondra (1993) juga menambahkan bahwa beberapa jenis burung air migran tiap tahunnya secara periodik memanfaatkan sebagian wilayah pesisir Indonesia sebagai habitat sementara. Beberapa habitat yang disukai burung air migran adalah daerah lahan basah, seperti daerah estuari (rawa payau), rawa, sungai dan sawah. Beberapa daerah estuaria di Indonesia merupakan habitat penting bagi sejumlah besar burung air, terutama burung air migran. Kebanyakan burung air yang berasosiasi dengan zona intertidal di daerah estuari merupakan burung karnivora dan omnivora terhadap invertebrata infauna dataran lumpur, yang mendapatkannya dengan cara meraba pada saat pasang surut (Nybakken, 1988).
Kualitas tanah dan air di daerah estuarin dan rawa pada saat ini semakin mengalami penurunan kualitas dan kuantitas, terutama dengan adanya berbagai macam pencemaran dan konversi lahan. Daerah estuari dan rawa yang rusak tersebut telah mengakibatkan degradasi mutu produktivitas lahan, hingga kesempatan burung air migran untuk memperoleh energi yang sangat diperlukan untuk menempuh perjalanan panjang dalam bermigrasi menjadi berkurang (Alikondra, 1993). Perubahan tata guna lahan telah berakibat nyata terhadap kehidupan burung. Hutan hujan dataran rendah yang dahulunya merupakan habitat terbaik bagi burung, sekarang hanya tersisa 2,5 % dan menjadi habitat langka. Lingkungan hidup alami, seperti ekosistem mangrove, rawa, danau dan telaga yang merupakan habitat bagi kehidupan burung, saat ini sangatlah sulit didapatkan. Sebagai gantinya adalah daerah ubahan yang merupakan habitat buatan manusia yang berkembang sangat luas, seperti pertambakan, sawah, perladangan, padang ilalang, dan hutan sekunder yang sebagian besar tanamannya sangatlah homogen (MacKinnon, 1995).
Kelangsungan hidup jenis burung air, terutama burung air migran perlu mendapatkan perhatian, mengingat ruang geraknya yang sangat luas. Terdapat dua cara penyelamatan sebagai strategi konservasi yang dapat ditempuh untuk pelestarian kelangsungan hidup burung, seperti perlindungan terhadap habitat burung, dan pembatasan terhadap aktivitas perburuan yang berlebihan. Dalam penyusunan rancangan strategi konservasi tersebut diperlukan observasi untuk mengetahui (1) beberapa jenis burung dan derajat kelimpahan, (2) keadaan habitat dan pemanfaatannya, serta (3) faktor pengganggu terhadap populasi ataupun habitatnya (Alikondra, 1993).
Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) merupakan kawasan yang terletak di bagian timur kota Surabaya yang berbatasan langsung dengan Selat Madura. Pamurbaya merupakan kawasan yang memiliki ekosistem marine (lautan), estuarine (perairan payau) dan palustrine (perairan tawar). Tipe ekosistem yang disebutkan tersebut seperti kawasan hutan bakau (mangrove), pertambakan, rawa, muara sungai dan pesisir (Latief, 1991). Keadaan habitat seperti ini merupakan termpat persinggahan yang sangat baik bagi kelangsungan hidup burung air migran. Latief (1991) juga menambahkan bahwa Pamurbaya memiliki tiga tipe substrat yang berbeda dengan keanekaragaman jenis invertebrata infauna yang berlainan komposisinya, yakni tipe substrat berpasir, lumpur berpasir dan berlumpur. Keadaan habitat di kawasan Pamurbaya saat ini mengalami kerusakan yang cukup parah karena adanya konversi lahan dengan pembukaan hutan mangrove untuk keperluan pengembangan pemukiman, rekreasi, tanggul pantai dan pertambakan (Burhan, 1991). Aktivitas tersebut bila dibiarkan begitu saja, diduga dapat memusnahkan habitat bagi burung yang sehingga memusnahkan populasi berbagai jenis burung air.
Fenomena unik mengenai burung air migran yang berlangsung pada kawasan Pamurbaya saat ini masih sangat kurang untuk diungkapkan. Hubungan yang berarti dari komposisi jenis dan kepadatan burung air famili Scolopacidae dan Charadriidae yang sering dijumpai di Pamurbaya pada tipe habitat estuari Pamurbaya bertekstur substrat berbeda merupakan jenis fenomena alam yang membutuhkan suatu perhatian untuk di munculkan. Hasil studi ini diharapkan mampu memberikan manfaat dalam upaya perlindungan dan pelestarian kawasan Pamurbaya sebagai habitat burung air secara keseluruhan terutama pada famili Scolopacidae dan Charadriidae yang merupakan jenis burung air global sebagai burung air migran.


KAJIAN TENTANG BURUNG DAN LINGKUNGANNYA
Burung Air
Pengertian burung air
Konvensi Ramsar (3 Pebruari 1971) mendefinisikan burung air (waterfowl) sebagai kelompok burung yang secara ekologis kehidupannya sangat bergantung kepada keberadaan lahan basah (wetland). Dalam konvensi Ramsar tersebut dinyatakan bahwa yang termasuk dalam lahan basah meliputi rawa, rawa payau, lahan gambut, perairan tergenang, perairan mengalir, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 m (Anonim, 1996).Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk menamai beberapa kelompok burung air, seperti wildfowl untuk kelompok burung air liar dari famili Anatidae (bebek-belibis) dan shorebirds atau waders untuk kelompok burung air perancah yang mempunyai beragam karakter bentuk dan ukuran paruh serta kemampuan merancah (wading) ditempat lunak dan tergenang air dengan ukuran tubuh yang bervariasi antara kecil (panjang 13 cm) hingga sedang (panjang 16 cm) (Howes & Bakewell, 1989).
Jumlah jenis burung air
Jumlah jenis burung air di seluruh dunia yang diketahui sebanyak 32 famili yang terdiri atas 833 jenis (Wibowo et al., 1996). Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah jenis burung air tertinggi di dunia. Rose & Scott (1997) secara terperinci menggolongkan beberapa burung air yang terdapat di Indonesia menjadi 20 famili (tersaji pada Tabel 1) dan tersusun atas 184 jenis.
Tabel 1. Famili burung air di Indonesia
No. Nama Famili Nama Indonesia
1.2.3.4.5.6.7.8.9.10.11.12.13.14.15.16.17.18.19.20. AnatidaeArdeidaeBurhinidaeCharadriidaeCiconiidaeGlareolidaeGruidaeHaematopodidaeHeliornithidaeJacanidaeLaridaePhalacrocoracidaePhalaropodidaePelecanidaePodicipedidaeRallidaeRecurvirostridaeRostratulidaeScolopacidaeThreskiornithidae ItikCangakWili-wiliTrulek/CerekBangauTerikBurung-jenjangKedidirFinfootUcing-ucinganCamarPecuk-PelikanTitihanAyam-ayamanGagang-bayemBerkik-kembangTrinil-trinilanPelatuk dan Paruh sendok
Rose & Scott, 1997

Peran ekologis burung air
Burung air diduga berperan penting dalam pertukaran energi antara kehidupan daratan dan perairan, sehingga burung tersebut turut menentukan dinamika produktivitas pada lahan basah. Burung air menyediakan sejumlah pupuk alami bagi vegetasi pantai dan daerah-daerah yang lebih tinggi, dan vegetasi tersebut berfungsi sebgai stabilisator lingkungan pantai terhadap pengaruh erosi. Dengan cara demikian, kehadiran burung air tersebut juga dapat mempercepat suksesi yang terjadi di lahan basah (Wibowo et al., 1996).
Burung sangat peka terhadap polusi dan penurunan kondisi makanannya, karena burung berada pada urutan akhir dalam tingkatan rantai makanan. Oleh sebab itu, kelompok burung air tersebut dapat digunakan sebagai indikator perubahan kualitas lingkungan (Buckley & Buckley, 1976).
Burung air dijadikan sebagai salah satu kriteria penentu untuk memasukkan sebuah ekosistem lahan basah ke dalam “Daftar Ramsar”, karena burung air mempunyai peranan yang penting pada ekologi lahan basah (Wibowo et al., 1996).

Ancaman terhadap burung air
Burung air di banyak negara termasuk Indonesia, menghadapi ancaman yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Beberapa faktor yang dapat mengancam kehidupan mereka menurut Noor (1996) dan Alikondra (1993), adalah sebagai berikut.
1. Pengalihan peruntukan habitat.
2. Perburuan dan perdagangan satwa.
3. Pencemaran lingkungan.

Migrasi Burung
Sebab dan waktu migrasi
Kata migrasi diturunkan dari kata migrat (Latin) yang berarti pergi dari satu tempat ke tempat lain atau juga bermakna bepergian ke berbagai tempat (Peterson, 1986). Migrasi dalam kehidupan hewan dapat didefinisikan sebagai pergerakan musiman yang dilakukan secara terus menerus dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat semula, biasanya dilakukan dalam dua musim yang meliputi datang dan kembali ke daerah perkembangbiakan (Alikondra, 1990).
Burung termasuk salah satu dari satwa yang melakukan migrasi. Hal ini ditunjang oleh kondisi morfologi yang memungkinkan burung lebih mudah melakukan migrasi bila dibandingkan dengan satwa lainnya. Migrasi pada burung telah diketahui secara intensif sejak 50-60 tahun yang lalu (Alikondra, 1993).
Diperkirakan burung mulai bermigrasi pada waktu yang sama setiap tahun. Keberangkatan burung untuk bermigrasi tampaknya ditentukan oleh pengaruh interaksi kompleks dari berbagai rangsangan luar (termasuk cuaca) dan penanggalan biologis yang memungkinkan burung mengetahui perubahan musim (Peterson, 1986). Di antara penanggalan biologis tersebut terdapat kelenjar endokrin, alat yang dapat merangsang burung jantan untuk bernyanyi dan burung betina untuk bertelur. Burung mengalami perubahan biologis berhubungan dengan reproduksi di saat sebelum dan sesudah musim bersarang, sehingga kelenjar endokrin menjadi sangat aktif. Dalam periode inilah kebanyakan burung bermigrasi (Peterson, 1986). Dengan demikian kegiatan periodik kelenjar endokrin tampaknya merupakan salah satu penyebab burung memulai perjalanan panjangnya.
Penyebab migrasi yang lain erat kaitannya dengan penambahan populasi baru. Ledakan populasi akibat menetasnya anak burung menyebabkan tuntutan makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba, tetapi hal ini bersifat sementara. Keadaan ini menyebabkan burung terbang ke daerah musim semi untuk memenuhi kebutuhan makanan berlimpah yang juga bersifat sementara (Peterson, 1986).
Penanggalan biologis yang diatur oleh rangsangan dari luar dapat menyiapkan burung untuk bermigrasi, tetapi saat yang paling tepat untuk memulai migrasi ditentukan oleh cuaca. Semua faktor lain dapat memungkinkan keberangkatan, tetapi migrasi jarak jauh biasanya menunggu kondisi terbang yang baik. Burung memerlukan angin yang sesuai agar dapat membantu pergerakan selama perjalanan. Banyak burung-burung migran berjuang dalam keadaan yang paling tidak aman untuk mencapai tujuannya (Peterson, 1986). Selama penerbangan jauh yang berbahaya dari tempat asal ke tempat tujuan, burung menggunakan berbagai macam kemampuan untuk menentukan arahnya. Burung dapat menentukan arah terbangnya dengan tepat dalam berbagai keadaan, seperti siang hari, malam hari, cuaca mendung, maupun cuaca berkabut. Pedoman utama yang dijadikan patokan arah oleh burung selama terbang bermigrasi adalah kompas matahari pada siang hari dan pola bintang pada malam hari. Selain itu pedoman lain yang dipakai adalah penglihatan visual, tanda magnet bumi, indera penciuman dan rasa, kemampuan untuk mendeteksi variasi gravitasi, dan gaya Coriolis (Mead, 1983).
Peristiwa migrasi burung itu sendiri terjadi dalam siklus yang hampir rutin. Jika kita mengamati siklus migrasi di jalur migrasi Asia Timur, maka burung air migran ini berbiak di Asia Utara saat belahan bumi utara mengalami musim panas, dan mengalami perjalanan jauh ke belahan bumi selatan pada saat mulai mendekati musim dingin di belahan bumi utara. Mereka terbang melintasi banyak negara di Asia Timur pada bulan Agustus – November dan tinggal untuk sementara di belahan bumi selatan yang lebih hangat iklimnya. Mereka tinggal kurang lebih delapan bulan sebelum kembali ke utara yang sudah mulai hangat kembali di bulan Maret-Mei untuk berbiak (Rudyanto, 1996).

Jalur migrasi burung air migran
Sesuai dengan kondisi fisik tubuhnya serta rangsangan-rangsangan dari luar, migrasi burung dapat meliputi berbagai arah. Menurut Alikondra (1993) ada banyak jalur migrasi burung air migran di dunia, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Dari Asia Timur (Siberia, Cina dan Mongolia) setiap tahun dalam musim dingin menuju ke arah Asia Tenggara dan Australia, dan dari Asia Timur setiap musim dingin menuju India.
2. Dari Eropa Utara ke Amerika Selatan.
Burung-burung dalam melakukan migrasi dapat mencaapai jarak tempuh yang sangat jauh sehingga memerlukan energi yang cukup, dan biasanya disimpan dalam bentuk lemak. Semisal jenis Warbler yang mempunyai persediaan lemak sebanyak 12 gr, cukup untuk terbang selama 105-115 jam (Alikondra, 1993). Burung ini pada umumnya berhenti untuk beristirahat dan mencari makan di suatu tempat dalam beberapa saat guna mendapatkan cadangan makanan berupa lemak sebagai bekal untuk meneruskan perjalanan ke tempat tujuan.

Jenis-jenis burung air migran
Jenis-jenis burung air migran merupakan jenis-jenis burung dari ordo Charadriformes yang tergolong dalam 12 famili (Jacanidae, Rostratulidae, Dromadidae, Haematopodidae, Ibidorhynchidae, Recurvirostridae, Burhinidae, Glareolidae, Charadridae, Scolopacidae, Pluviadellidae, dan Thinocoridae (Alikondra, 1993). Di dunia terdapat 214 jenis burung air, dan tidak kurang dari 126 jenis burung air migran bermigrasi melintasi daerah Jawa dan Bali tetapi tidak berkembangbiak pada daerah tersebut. Dari sejumlah jenis tersebut di atas, 46 jenis di antaranya dapat dijumpai di Pulau Jawa (MacKinnon, 1995).

Tipe Habitat
Tekstur substrat
Substrat pada tempat yang arusnya lebih kuat akan menjadi lebih kasar dibandingkan dengan tempat yang memiliki arus air yang lebih lemah (Nybakken, 1988).
Melalui gaya kapiler, butiran pasir halus cenderung untuk menampung lebih banyak air di atas tingkat pasang surut dalam celahnya setelah pasang surut. Pasir yang kasar berlaku sebaliknya, cepat mengalirkan air ketika surut. Pasir yang lebih halus juga lebih mudah untuk digali daripada kondisi tanah yang lebih kasar. Partikel organik pada kondisi tanah yang lebih halus (lumpur) lebih banyak dibandingkan dengan kondisi tanah yang lebih kasar (berpasir). Pemangsa utama pada pantai berlumpur tersebut biasanya ikan yang memperoleh makanan pada saat pasang naik dan burung pada saat pasang surut. Ketika pasang surut burung biasanya berasosiasi dengan zona intertidal. Kebanyakan burung yang berasosiasi dengan daerah intertidal merupakan burung karnovora atau omnivora (Nybakken, 1988).
Di antara partikel yang mengendap di estuaria kebanyakan bersifat organik. Akibatnya substrat ini sangat kaya akan bahan organik. Bahan inilah yang menjadi cadangan makanan yang besar bagi organisme estuaria. Jaringan makanan estuari dapat disimpulkan sebagai jaringan makanan yang mempunyai sejumlah aliran energi yang terutama berasal dari detritus dasar dan dengan suatu pemakaian energi yang kurang sempurna (Nybaken, 1988).

Adaptasi infauna
Organisme penghuni intertidal merupakan organisme air yang selalu berlindung dengan baik dari kekeringan di pantai yang berpasir lebih halus daripada yang berpasir kasar/kerikil. Salah satu adaptasi infauna habitat estuari adalah membuat lubang ke dalam substrat. Walaupun adaptasi ini sudah tentu bukan semata-mata berlaku bagi fauna estuaria, karena juga terdapat pada berbagai invertebrata di lumpur lunak di samudra (Nybakken, 1988).
Keuntungan pertama fauna estuari melakukan adaptasi ini adalah peluang untuk berhubungan dengan air interstitial yang mempunyai variasi salinitas dan suhu relatif kecil daripada air di atasnya, karena terbatasnya kemampuan pengaturan osmosis dari fauna tersebut. Kedua, lebih kecilnya kemungkinan fauna tersebut dimakan oleh pemangsa yang hidup di permukaan substrat atau di air (Nybaken, 1988).

Burung Scolopacidae dan Charadridae
Burung famili Scolopacidae dan Charadriidae mempunyai jumlah jenis yang banyak dan tersebar luas. Burung-burung tersebut umumnya ditemukan di pantai atau daerah lahan basah terbuka seperti areal pertambakan. Semua anggota famili ini mempunyai kaki panjang, sayap meruncing dan paruh ramping memanjang. Paruh tersebut digunakan untuk mengais ke dalam lumpur, guna mencari cacing dan invertebrata yang tersembunyi. Kebanyakan merupakan jenis pengembara (migrator). Ada 35 jenis burung famili Scolopacidae dan 16 jenis burung famili Charadriidae yang sudah pasti tercatat di Sunda Besar (MacKinnon, 1995).
Mayoritas burung pantai memangsa invertebrata infauna dataran lumpur dengan meraba pada saat pasang turun. Variasi panjang dan bentuk paruh burung ini memungkinkan jenis burung yang berbeda akan mencari makanan pada kondisi dan kedalaman substrat yang berbeda (Nybaken, 1988).


Pantai Timur Surabaya
Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) merupakan wilayah pengembangan kota Surabaya dengan luas wilayah sekitar 3.200 ha. Menurut Schmidt iklimnya tergolong tipe D, dengan curah hujan rata-rata 100 mm/bulan pada musim penghujan dan kurang dari 60 mm/bulan pada musim kemarau. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26,6 – 30,3 0C. Kondisi tanah umumnya homogen yang terdiri dari jenis tanah liat dan liat berpasir yang mempunyai daya dukung rendah pada lingkungan dan bangunan (Anonim, 1991).
Wilayah Pamurbaya terletak di tepi Selat Madura yang luasnya relatif sempit. Daerahnya merupakan bentang alam yang relatif datar dengan kemiringan antara 0 – 3 %. Kawasan ini terbentuk sebagai hasil endapan dari sistem sungai yang ada di sekitarnya dan pengaruh laut. Kondisi daerah delta dengan tanah aluvial yang sangat kuat dipengaruhi oleh sistem tanah ini (disebut juga dengan istilah tanah rawang laut), merupakan habitat yang baik bagi terbentuknya ekosistem mangrove (Anonim, 1991).
Pamurbaya merupakan kawasan yang memiliki ekosistem marine (lautan), estuarine (perairan payau) dan palustrine (perairan tawar). Tipe-tipe ekosistem yang terdapat di Pamurbaya meliputi kawasan hutan bakau (mangrove), pertambakan, rawa, muara sungai dan pesisir (Latief, 1991). Keadaan habitat seperti ini merupakan tempat persinggahan yang sangat baik bagi kelangsungan hidup burung air migran. Latief (1991) juga menambahkan bahwa Pamurbaya memiliki tiga tipe substrat yang berbeda dengan keanekaragaman jenis invertebrata infauna yang berlainan komposisinya, yakni tipe substrat lempung, lumpur lanau dan lempung berpasir.
Hasil penelitian Soegianto (1989) menunjukkan bahwa kondisi hutan mangrove di kawasan Pamurbaya, khususnya di muara sungai Wonorejo telah mengalami kerusakan dengan tingkat kategori serius. Keadaan habitat di kawasan Pamurbaya saat ini mengalami kerusakan yang cukup parah karena adanya konversi lahan dengan pembukaan hutan mangrove untuk keperluan pengembangan pemukiman, rekreasi, tanggul pantai dan pertambakan (Latief, 1991). Aktivitas tersebut bila dibiarkan begitu saja, diduga dapat memusnahkan habitat bagi burung yang sehingga memusnahkan populasi berbagai jenis burung air.
Data rata-rata pengamatan Jenis Burung Migran Yang Dijumpai di Sepanjang Pantai Timur Surabaya November – Desember 2001

No. Nama Nama Latin Jumlah burung yang dijumpai di Lokasi
Keputih Wonorejo Kenjeran Lama
1. Trinil Kaki merah Tringa totanus 10 8 -
2. Trinil rawa Tringa stagnatilis - 10 7
3. Trinil hijau Tringa Ochropus 6 - -
4. Trinil kaki hijau Tringa nebularia 8 8 -
5. Trinil pantai Tringa hypoleucos - 15 -
6. Trinil Lumpur Asia Limnodromus semipelmatus - - 12
7. Cerek Pasir mongolia Charadius mongolus - 6 -
8. Cerek Pasir Besar Charadius leschenaulti - 10 -
9. Gajahan Besar Numenius arquata 6 - 8




Data Pengamatan Burung
26 Maret 2000
Wonorejo, Pantai Timur Surabaya

No. Jenis Jumlah
Nama Latin Nama Daerah
1. Charadrius sp. Cerek 1
2. Pluvialis fulva Cerek kernyut 15+
3. Calidris subminuta Kedidi jari-panjang 1
4. Calidris sp. Kedidi 10+
5. Gallinago sp. Berkik 1
6. Tringa glareola Trinil semak 2
7. Tringa totanus Trinil kaki merah 20+
8. Tringa nebularia Trinil kaki-hijau 7
9. Tringa stagnatilis Trinil rawa 6
10. Tringa hypoleucos Trinil pantai 10+
11. Numenius phaepus Gajahan pengala 1-2

Data Pengamatn Burung Migran Di Sepanjang Pantai Timur Surabaya Agustus – September 1997


N0. Nama Nama Latin Jumlah burung yang dijumpai di Lokasi
Kalisari Wonorejo
1. Trinil Kaki merah Tringa totanus 12 23
2. Trinil rawa Tringa stagnatilis - 5
3. Trinil hijau Tringa Ochropus 4 4
4. Trinil Semak Tringa glareola 6 25
5. Trinil pantai Tringa hypoleucos - 6
6. Trinil Lumpur Asia Limnodromus semipelmatus - 10
7. Cerek Kalung Patah Charadius alexandrinus 8 -
8. Cerek Pasir mongolia Charadius mongolus - 3
9. Cerek Pasir Besar Charadius leschenaulti 20 3
10. Cerek asia Charadius veredus - 6
11. Cerek kalung hitam Charadius dubius 5 5
12. Kedidi Charadius peronii 3 5
13. Kedidi leher merah Calidris rucifolis 5 2
14. Gajahan Numenius phaepus 32 -
15. Trulek kli-u-i Pluvialis squatarola - 5
16. Terik kaki Panjang Stiltia isabella 1 -
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

keberadaan serangga sebagai indikasi kualitas lingkungan, sebagian besar siklus serangga ada didalam air,sehingga serangga dapat menggambarkan kualitas air suatu ekosistem
Detektif kali Surabaya melakukan inventarisasi keanekaragaman tumbuhan dibantaran kali
Penelitian potensi tumbuhan obat dengan analisis vegetasi

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id