12 February 2003 20:14:53
SURABAYA AMAN DARI ANCAMAN BAHAYA MINAMATA DISEASE
Penduduk Surabaya beruntung, karena ancaman Minamata disease yang selama ini dikhawatirkan ternyata saat tidak terlihat tanda-tandanya. Dari 50 orang di 4 Kelurahan yang tinggal dibantaran Kali Surabaya dan memiliki kebiasaan makan ikan yang didapat dari Kali Surabaya rata-rata kandungan merkuri dirambut sebesar 0,6 ppm (Uji lab dilakukan di laboratorium National Institute For Minamata Disease867-0008 4058-18 Hama Minamata City Kumamoto,JAPAN 2003 January )
, kondisi ini sangat aman dan jauh dari ketentuan yang dikeluarkan WHO yang menetapkan batas maksimal 50 ppm bagi pria dewasa dan 10 ppm bagi perempuan hamil. Rendahnya tingkat kandungan merkuri di rambut disebabkan
sebagian besar ikan-ikan/ ikan bader (puntius javanicus) yang dikonsumsi tidak mengandung merkuri, dari empat lokasi pengamatan hanya 1 lokasi yang menunjukkan keberadaan merkuri di ikan dan jumlahnya pun masih pada tahap normal (0,0001 ppm sedangkan standar WHO sebesar 0,4 ppm) hal ini menunjukkan merkuri yang ada diperairan masih belum berbentuk methilmerkuri yang dapat diserap oleh biota air tawar sehingga meskipun dalam penelitian ini kandungan merkuri di 14 titik sampling rata-rata 0,0269 mg/l melebihi baku mutu air Kelas I yang menetapkan kandungan merkuri dalam air sebesar 0,001 mg/l . Sehingga dapat disimpulkan ikan Kali Surabaya aman untuk dikonsumsi, dan yang terpenting Bahaya Minamata tidak lagi menghantui.
Kandungan merkuri pada rambut manusia di bantaran Kali Surabaya pada saat penelitian dilakukan Nopember – Desember 2002 menunjukkan konsentrasi yang rendah berkisar antara 0,14 ppm – 3,77 ppm, bahkan dari 50 responden yang diambil sample rambutnya hanya 8 orang (16%) kandungan merkurinya diatas 1 ppm.
Hasil ini jauh dibawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) yang menetapkan kandungan mercuri pada rambut manusia tidak lebih dari 50 ppm untuk pria dewasa dan 10 ppm untuk perempuan hamil. Secara lengkap hasil penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini.

Responden Ke- Kandungan Mercuri Rambut (ppm)
Bambe Warugunung Jambangan Surabaya
1 0.35 0.17 0.14 0.23
2 0.35 0.23 0.2 0.27
3 0.36 0.24 0.25 0.27
4 0.42 0.29 0.3 0.35
5 0.47 0.33 0.35 0.41
6 0.49 0.34 0.48 0.43
7 0.56 0.35 0.49 0.59
8 0.83 0.39 0.5 0.97
9 0.88 0.46 0.68 1.04
10 0.93 0.48 1.08 1.26
11 0.97 0.56 1.22 1.78
12 1.34 0.8 3.77 2.23
Uji laboratorium : National Institute For Minamata Disease867-0008 4058-18
Hama Minamata City Kumamoto,JAPAN 2003 January

Dari tabel diatas terlihat bahwa dari empat lokasi penelitian menunjukkan hasil yang tidak mengkhawatirkan, meskipun masyarakat dibantaran Kali Surabaya sebagaian besar gemar makan ikan saat terjadi ikan munggut.
Dari keempat lokasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di Surabaya kota memiliki kandungan mercuri lebih tinggi (rata-rata 0,8191 ppm), Kelurahan Jambangan Sebesar 0,7883, di Desa Bambe sebesar 0,6625 ppm sedangkan Warugunung sebesar 0,3866. Rata-rata kandungan merkuri dalam rambut masyarakat yang tinggal di bantaran dari 50 contoh rambut yang diambil sebesar 0.645 ppm.
Kecilnya kandungan merkuri dalam rambut manusia di keempat lokasi penelitian menunjukkan bahwa saat ini merkuri dalam bentuk inorganik merkuri yang ada di perairan Kali Surabaya belum diubah oleh bakteri spesifik menjadi methil merkuri.
Rantai makanan yang ada di Kali Surabaya menunjukkan kondisi yang tidak mengkhawatirkan, ikan bader (Puntius javanicus) di daerah Bambe, Warugunung, Jambangan dan dam Gunung Sari yang diambil sample tubuh untuk dianalisa kandungan merkuri dalam tubuhnya menunjukkan negatif, hanya di lokasi Karang Pilang kandungan mercuri dalam ikan bader ini menunjukkan angka 0,0001 ppm, dan angka ini jauh dari standar bahaya karena standar yang dipakai 0, 4 ppm (4000 x lipat dari kandungan yang ada sekarang), sama halnya dengan analisa yang dilakukan pada kerang air tawar dari famili unionidae yang dilakukan di daerah hulu Kali Surabaya, dengan alasan sudah tidak dijumpainya lagi biota bivalvia ini di daerah Warugunung, Karang pilang, Jambangan ataupun Gunung Sari, hal ini dikarenakan dasar sungai tempat hidup benthos di daerah Hilir Kali Surabaya telah banyak mengalami penutupan oleh sedimentasi daerah bantaran Kali ataupun tingginya volume limbah organik dari perusahaan kertas.
Rata-rata kandungan merkuri dalam daging kijeng sebesar 0,001 ppm, penelitian ini dilakukan di empat desa dari Hulu ke Hilir. Kandungan mercuri tertinggi djumpai di daerah Driyorejo 0,0021 ppm, lokasi pengambilan sample kijeng dilakukan 1 km di downstream PT MIWON dan PT Surya Agung Kertas.

Meskipun demikian kita patut waspada akan bahaya kontaminasi merkuri di Kali Surabaya karena beberapa indikasi menunjukkan tingginya kandungan merkuri pada lumpur dan biota dasar air, sehingga bukan tak mungkin bila pencemaran di Kali Surabaya tidak dapat dikendalikan dampak kontaminsai segera kita nikmati.
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

keberadaan capung jarum salah satu contoh indicator kualitas air yang masih layak digunakan sebagai bahan baku air minum
investigasi pembuangan limbah industri oleh detektif kalisurabaya, memberikan pengetahuan baru tentang kimia, fisika dan dampak biologis limbah terhadap kehidupan air.
Limbah industri kertas di Kali Surabaya menyumbangkan 84% limbah cair di kali Surabaya, keberadaan pabrik kertas mendesak untuk direlokasi untuk mengurangi beban pencemaran di kali surabaya

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id