5 Juni 2003 adalah peringatan hari lingkungan hidup, sejak 1974 sudah 30 kali manusia didunia memperingatinya, kali ini diambil isu tentang Air. Water, 2 Billion people are dying for it! (Air, dua Milyar orang kesulitan mendapatkannya!).Memang sudah saatnya kita memperhatikan kondisi sumber daya alam yang tak kurang 20 liter lebih setiap harinya harus kita dapatkan untuk minum, mandi dan cuci. Sebagai negara kepulauan kita tak perlu khawatir akan jumlah pasokan air yang ada di bumi Indonesia, namun pencemaran telah mengakibatkan penurunan kualitas air.
Gambaran menurunnya kualitas air dapat dilihat dari banyaknya kasus pencemaran Sungai di Indoneisia
1. Sungai Musi – Sumatera , sungai yang membelah Kota Palembang dan menjadi sumber bahan baku air minum warga kota ini makin tercemar oleh limbah industri. Sedikitnya 386 perusahaan berpotensi mencemari Sungai Musi.
Namun sayangnya, kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada tindakan serius dari pemerintah. Akibatnya, air sungai terpanjang di Sumatra ini tidak layak lagi dikonsumsi warga yang hidup di sepanjang bantaran sungai. Warna air cokelat, berlumpur, dan mengandung minyak disertai bau yang tak sedap. dari 386 perusahaan industri, 40% perusahaan industri pengolahan karet mentah yang banyak berdiri di hulu Sungai Musi, Kelurahan Pulo Kerto, Palembang, merupakan kontributor terbesar pencemaran sungai.
2. Sungai Kapuas- Kalimantan Pencemaran merkuri di Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) sudah sangat tinggi. Meski untuk air olahan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kodya Pontianak tercatat sekitar tiga-lima kali di atas ambang batas, namun untuk sejumlah lokasinya lainnya tercatat di atas 60 kali, bahkan ada yang pencemaran merkurinya 200 kali di atas ambang batas.
3. Delapan sungai di Bekasi (Sungai Blencong, Sungai Laut PLTGU Muara Tawar, Sungai Bojong, Sungai Kaliabang Hilir, Sungai CBL, sungai dekat pipa pembuangan PT KBT, Sungai Bendungan, dan Sungai Cikarang) saat ini tercemar limbah sangat parah. Selain dari timur Jakarta, Karawang lewat Sungai Citarum, limbah itu juga berasal dari Bogor. Akibatnya, banyak petani tambak gagal panen karena ikan-ikan tidak dapat hidup
4. Kandungan logam berat di sungai-sungai Jakarta jauh melebihi ambang batas dan sangat membahayakan lingkungan sekitar. Selain itu, diduga banyak perusahaan langsung membuang limbah berbahaya yang belum diolah ketika terjadi banjir
Pencemaran sungai juga terjadi di Kali Surabaya hasil temuan Ecoton di muara Kali Surabaya belum lama ini menyebutkan tingkat pencemaran merkuri telah mencapai tahap mengkhawatirkan. Air, lumpur, kerang, ikan dan ekosistem didalamnya telah terkontaminasi merkuri dan kadarnya telah melebihi ambang batas.
Hasil riset yang dilakukan Ecoton dengan National Institute Minamata Disease Jepang menunjukkan bahwa pada rambut orang yang tinggal dan mengkonsumsi ikan di Kali Surabaya, positif terkontaminasi merkuri rata-rata 0,6 ppm, ancaman yang terjadi sekarang adalah akumulasi dari pencemaran-pencemaran yang terjadi sebelumnya dan tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan meminjam istilah henry nurcahyo, kerusakan Kali Surabaya sudah dianggap masyarakat sebagai hal yang biasa dan bahkan telah menjadi sikap budaya pencemaran sungai, terjadi berulang-ulang, tak pernah ada penyelesaian, sehingga masyarakat menjadi abai untuk memikirkannya. Apalagi, kasus-kasus lingkungan pada umumnya memang baru terasa urgen justru ketika akibatnya sudah menjadi terlambat untuk mengatasinya. Sering kali orang tidak menganggap penting persoalan selama akibat yang dirasakannya bukan terjadi saat itu juga.
Dari catatan diatas muncul pertanyaan. Sampai Kapan Sungai-sungai di Indonesia akan mampu bertahan ?
Untuk menjawab itu saya akan bahas mendetail tentang Kali Surabaya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami merasa perlu untuk melihat sejarah awal terjadinya pencemaran di Kali Surabaya. Diawali dengan tercemarnya Kali Surabaya oleh asam sianida dari pabrik bumbu masak PT Miwon di Driyorejo pada tahun Bulan Juni 1975, selanjutnya pada tahun 1977 Gubernur Sunandar Priyosudarmo membuat gebrakan dengan Penutupan sementara pabrik kulit PT Haka dan pabrik bumbu masak PT Miwon: menyusul empat industri lain (PT Pakabaya, PT Jayabaya, PT Spindo dan PT Surabaya Wire) untuk menghentikan pembuangan limbah ke Kali Surabaya, dan menutup perluasan pabrik dan pembangunan yang sudah lama berdiri atau yang akan dibangun di sepanjang bantaran Kali Surabaya. Selanjutnya tahun 1982 terjadi pencemaran yang paling parah karena mengubah air Kali menjadi Anyir. Tahun 1987 terjadi lagi pencemaran yang memaksa Emil Salim turun tangan langsung sehingga Miwon dan Mekabox berjanji didepan Menteri Kependudukan dan LH Prof Emil Salim untuk membangun pengolahan limbah akhir desember 1987. Tahun 1994 kenakalan industri yang membuang limbahnya ke Kali Surabaya semakin memuncak, industri kertas menjadi biang kerusakan PT Surya Agung Kertas dan Suparma Papermill giliran membuat perjanjian dengan menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Sarwono Kusuma Atmaja untuk membangun Intalasi Pengola Air Limbah., klimaksnya saat terjadi Pencemaran Akibat tumpahan tetes Pabrik Gula Ngadirejo tiga tahun lalu, masih terbayang dalam ingatan kita selama lima hari air Kali Surabaya berubah warna menjadi coklat kehitaman disusul dengan mampetnya PDAM Surabaya maupun Sidoarjo akibat buruknya kualitas air Kali Surabaya dan anak sungainya, terakhir pada tahun 2002. Catatan menarik adalah sejak tahun 1975 hingga 2002 pencemaran disebabkan oleh buangan limbah bahan organik yang tersusun dari kombinasi karbon, oksigen, nitrogen dan unsur penting sperti belrang dan fosfor, kelompok penting pada air buangan ini adalah protein (40%-60%), Karbohidrat (25%-50%) lemak dan minyak (10%) yang dihasilkan oleh Industri bumbu masak, Industri Kertas, dan Industri Gula, bahan organik dari ketiga industri ini menyumbang 86% pencemaran di Kali Surabaya (94% dari 86% berasal dari pabrik kertas). Akibat pencemaran-pencemaran tersebut Kali Surabaya banyak ditinggal penghuninya. Kesimpulan ini berdasarkan hasil penelitian kami terhadap jenis biota makro yang menghuni dasar dan pinggiran sungai Kali Surabaya, ternyata disepanjang Kali Surabaya terjadi penurunan keanekaragaman jenis maupun jumlah biota seiring dengan menurunnya kualitas lingkunganyang diukur dengan parameter kandungan oksigen terlarut, Suhu, keasaman, Kebutuhan kimia oksigen dan kekeruhan. Namun kerusakan yang ada masih menyisakan tempat hidup bagi biota hal ini disebabkan Kali Surabaya masih memiliki kemampuan untuk membersihkan diri sendiri (Self Purification)
Pembersihan alamiah (Self Purification)
Kali Surabaya digunakan sebagai tempat untuk membuang air buangan dari domestik maupun industri, sepanjang beban buangan tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity), maka self purifikasi tidak banyak terganggu.
Proses yang terjadi di perairan tersebut berlangsung secara aerobik. Kadangkala beban buangan melebihi kapasitas asimilasi sungai yang dapat menyebabkan meningkatnya pertumbuhan bakteri dan kondisi sungai menjadi anaerobik (tanpa oksigen) sehingga keadaan ini dapat mengganggu lingkungan.
Bakteri merupakan kunci dalam siklus biologi normal berperan dalam mengubah bahan-bahan pencemaran yang berupa organik terlarut menjadi sel-sel bakteri dan unsur-unsur anorganik. Terdapat hubungan simbiosis mutualisme antara bakteri dan algae melalui proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari algae akan menghasilkan oksigen.Hasil penguraian bahan-bahan organik, yaitu unsur-unsur anorganik digunakan oleh algae dan diubah menjadi sel-sel algae. Bakteri dan algae yang baru terbentuk menjadi makanan bagi protozoa, rotifer dan crustacea.
Bentuk-bentuk hewan dan beberapa algae besar serta bakteri menjadi makanan bagi ikan-ikan kecil. Ikan kecil menjadi makanan ikan besar yang merupakan makanan bagi manusia. Manusia membuang kotorannya kembali ke sungai tempat bakteri merombak senyawa-senyawa organik, sehingga siklus terjadi sempurna. Kunci dalam siklus biologi normal adalah oksigen, yang memegang peranan penting bagi kehidupan akuatik. Bila konsentrasi bahan pencemar berupa senyawa organik bertambah, akan mengakibatkan pertumbuhan bakteri dan merangsang peningkatan kebutuhan oksigen sebagai bahan dekomposisi senyawa organik. Oksigen akan menjadi defisit bahkan habis sama sekali, sejalan dengan ini kehidupan aquatik yang lebih tinggi akan mati satu demi satu. Ikan yang peka seperti ikan bader (puntius javanicus) akan mati kekurangan oksigen diikuti ikan-ikan besar, akhirnya jenis-jenis crustacea, rotifer dan protozoa akan punah juga.
Bakteri merupakan satu-satunya bentuk kehidupan yang ada. Habisnya oksigen terlarut, menyebabkan bakteri menjalani metabolisme secara anaerobik, area ini juga disebut zona dekomposisi aktif, dimana bakteri aktif melakukan dekomposisi bahan organik yang menurunkan oksigen dan meningkatkan nitrogen ammonia yang menimbulkan bau dan warna hitam. Selanjutnya akibat meningkatnya laju rearasi oksigen terlarut akan meningkat secara perlahan, pada tahap pemulihan ini nitrogen ammonia berubah menjadi nitrat. Spesies ikan yang toleran akan muncul lagi diikuti dengan tumbuh suburnya algae. Proses pembersihan alami ini dapat berjalan normal bila bahan polutan yang dibuang kesungai mampu untuk diasimilasi. Kali Surabaya akan mampu bertahan lebih lama bila Pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap 4 industri kertas di Kali Surabaya selama ini pemerintah terlalu gagal melakukan pengawasan. Kegagalan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air Kali Surabaya hasil Studi Brantas River Pollution Control-SUDP tahun 1998 menunjukkan selama satu dasawarsa ini beban limbah industri dan domestik Kali Surabaya justru terus meningkat. Jika pada tahun 1989 beban beban organik dari limbah domestik 38,4 ton/ hari meningkat menjadi 125 ton/hari pada tahun 1998 sementara limbah industri meningkat dari 81,6 ton/hari menjadi 205 ton/hari. Kemampuan self purifikasi ini akhirnya akan menurun hingga tidak berfungsi bila nafsu industrialisasi tanpa kontrol terus mengelitik dipikirankita semua. Menutup tulisan ini ada pepatah indian Kuno yang dapat kita renungkan bersama
Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang;
hanya bila tetes air sungai terakhir telah teracuni;
hanya bila ikan terakhir telah ditangkap;
barulah kita sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan
|