28 June 2003 16:56:12
BISAKAH KALI SURABAYA BERSIH LAGI ?
Awal abad ke-12, saat Mataram ingin memperluas daerah kekuasaannya, menemui kesulitan menaklukkan kota Surabaya. Dalam pertempuran penaklukan pertama, pasukan Mataram dipukul mundur oleh keberanian pasukan Surabaya. Susahnya menembus barisan Surabaya membuat Sultan Agung berpikir caranya mengalahkan pasukan Surabaya dengan mudah. Maka, dibendunglah Kali Surabaya dam ke dalam aliran sungai menuju kota dihanyutkan berbagai jenis bangkai hewan dan kotoran, bahkan racun. Dalam beberapa hari Kota Surabaya lumpuh oleh wabah muntaber. Bersamaan dengan kekacauan tsb, pasukan Mataram dengan mudah mengalahkan Surabaya. Rusaknya K. Surabaya, membuat wilayah ini jatuh ke pangkuan Mataram.
Pengalaman di atas menunjukkan, K. Surabaya adalah ekosistem penting, urat nadi kehidupan adalah ekosistem penting, urat nadi kehidupan bagi 3,2 juta warga Surabaya saat ini. Kondisi K. Surabaya akhir-akhir mengingatkan pada tulisan Dr. Agoes Soegianto (Surya, 24 Mei 1996) berjudul Bisakah Kali Surabaya bersih seperti Sungai Rhine ? Pertanyaan itu menarik dipertanyakan kembali saat ini, di mana kondisi K Surabaya mengalami titik klimaks dalam kerusakan ekosistem. Kerusakan itu dapat dilihat dari beberapa indikator :
1. Ketidakmampuan PDAM Kodya Surabaya mengolah air K Surabaya sebagai bahan baku air bersih, sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan baku harus mengambilnya dari K Pelayaran di Mojokerto.
2. Hilangnya keanekaragaman flora dan fauna. Menurut temuan ECOTON, sejak 1997 sangat sulit dijumpai beberapa jenis ikan khas K Surabaya (kutuk, sili, dan bulus) dan beberapa tumbuhan air, seperti ganggang air.
3. Turunnya nilai oksigen terlarut (dissolved oksigen) di sepanjang K Surabaya yang membentang dari DAM Mlirip Mojokerto sampai Surabaya.
4. Sering terjadi peristiwa ikan mati akibat tingginya kandungan bahan organik limbah industri, sehingga menurunkan kadar oksigen dalam air. Dalam penelitian Prof Dr Ir Soetiman MSc BE, tahun 1987, K Surabaya tercemar 20 ton limbah. Sedangkan penelitian terbaru (1996) menunjukkan di sepanjang K Surabaya di buang 25 ton limbah, setidaknya 70 industri, dengan penyumbang terbesar pabrik kertas, pulp dan penyedap rasa.
5. Tingginya tingakat pencemaran logam berat mercury (Hg), tembaga (Cu), timah hitam (Pb), dan kadmium (Cd) di Pantai kenjeran. Itu merupakan dampak tingginya pencemarana di badan Kali Surabaya, karena kali ini menyupali lumpur yang menghampar sepanjang Pantai Timur Surabaya.

Ini terjadi karena banyaknya industri di bantaran K Surabaya membuang limbahnya ke badan air tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi K Surabaya saat ini sama dengan kondisi Sungai Rhine, di tahun 1970. Dalam tulisan Dr Agoes S, tahun 1970 S. Rhine dinyatakan “mati”. Sejumlah besar limbah tak diolah masuk sungai, menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut. Akibatnya, banyak fauna akuatik hilang. Kadar Hg dan Cd di dasar lumpur sangai sangat tinggi. Kontaminasi tertinggi terjadi di dekat kota Koln (Jerman). Wilayah sepanjang 20 km dinyatakan sebagai "zona berbahaya“.

Tetapi, Nofember 1995, terjadi keajaiban. Sungai Rhine mengalami perubahan dramatis. Dari hasil penelitian sekelompok peneliti Prancis ditemukan ikan salmon dan throut kembali ke hulu sungai untuk pertama kalinya, setelah 50 tahun menghilang. Penelitian oleh Pasca Riche berhasil menangkap 9 ekor ikan salmon dan 35 ekor ikan throut di DAM Iffizheim, dekat Strassbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Ikan itu diberi tagging oleh peneliti Belanda itu sukses bermigrasi ke hulu sungai untuk memijah. Ini mengisyaratkan, secara keseluruhan sungai itu mengalami transformasi, tak lagi tercemar. Sebab, jika masih tercemar mustahil ikan itu tertangkap di hulu sungai. Ikan itu sangat sensitif terhadap semua bahan pencemar.

Kelima negara yang dilalui sungai itu sudah lama mempermasalahkan siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas tercemarnya air sungai dan siapa yang harus membayar untuk membersihkannya. Menurut Dr Agoes S, aksi penyelamatan sungai dipicu oleh peristiwa kebakaran gudang kimia milik perusahaan raksasa Sandoz AG di Basel Swiss. Ketika pemadam kebakaran menyemprotkan air, secara tak sengaja air itu bercampur dengan pestisida yang terdapat dalam gudang yang terbakar dan mengalir ke S Rhine. Akibatnya puluhan ton ikan sidat dan hewan air lain mati. Bahan kimia itu juga mencemari bahan baku air minum untuk lebih dari 50 juta jiwa. Bencana ini memberi inspirasi kepada masyarakat Eropa, untuk mengatasi pencemaran diperlukan shock therapy. Caranya dengan menjadikan lingkungan sebagai isu politik.

Akibatnya, calon pemimpin pemerintahan negara-negara Eropa sangat hati-hati menghadapi pemilih. Juga, para industriawan segera mengubah tingkah laku buruknya atau harus menghadapi boikot konsumen jika tetap ceroboh. Itu dapat mengancam kelangsungan hidupnya.

Munculnya gerakan lingkungan dari kekuatan pemilih di Jerman dan negara Eropa lain, memacu terbentuknya kerjasama antara pemerintah dan kalangan bisnis untuk mengambil langkah dalam memulihkan kesehatan S Rhine. Tahun 1987, dibentuk komisi internasional perlindungan S Rhine, yang disetujui kelima negara yang dilalui sungai tsb. Program ini mempunyai beberapa tujuan penting sampai akhir abad ini : (1) mengurangi masuknya limbah beracun ke S Rhine sampai 50 % ; (2) membentuk sistem tanda bahaya sepanjang sungai, tindakan pencegahan dan keselamatan untuk mencegah dumping bahan beracun sungai ; (3) memulihkan flora dan fauna S Rhine.

Setelah berjalan beberapa tahun, program itu cukup sukses. Terlihat dari dicapainya beberapa tujuan yang dirancang : kadar Pb, Hg dan dioksin turun sampai 70 %. Sedangkan Cr, Ni dan logam berat lainnya turun sampai 50 %.

Upaya teknis yang dilakukan kelompok penyelamat adalah :
Pertama, patroli internasional untuk mengawasi secara diam-diam para pelanggar. Banyak industri yang memproduksi bahan beracun berbahaya dipindah dari aliran sungai, bahkan ke negara dunia ketiga. Indonesia, salah satunya kebagian pindahan industri berbahaya ini.

Kedua, bekerja sama dengan industri membangun instalasi pengolah limbah modern. Industri di sepanjang bantaran S Rhine sadar, mereka harus ikut andil dalam upaya penyelamatan ini, sehingga air sungai aman lagi digunakan sebagai bahan baku air minum.

Ibarat orang sakit, S Rhine sudah keluar dari ruang gawat darurat, namun belum boleh keluar dari rumah sakit. Masih banyak kandungan nitrogen dan fosfor dari pertanian yang berbahaya bagi kesehatan S Rhine. Para penyelamat optimis, tahun 2000 keanekaragaman S Rhine semakin tinggi dan sehat untuk habitat semua kehidupan air.

Bisakah K Surabaya bersih dan kembali menjadi habitat yang layak bagi keanekaragaman flora dan fauna yang kini hilang, seperti di S Rhine ?

Mengapa tidak ? Kerusakan ekosistem yang kini di depan mata dapat dijadikan titik tolak untuk melakukan upaya penyelamatan K Surabaya. Kita tak perlu menunggu ada gudang kimia terbakar, yang membawa pestisida ke K Surabaya dan membunuh puluhan ton ikan bader.

Upaya penyelamatan harus sgera dirintis. Al :
Pertama, para industriawan di bantaran K Surabaya harus ikut dalam pengelolaan kali dan menyadari mengolah limbah merupakan keharusan. Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) harus masuk dalam paket biaya produksi yang dibebankan pada konsumen, sehingga tak ada lagi ungkapan pengolahan limbah itu mahal.

Kedua, Ilmuwan kampus harus ikut urun rembug, bekerja sama dengan industri setempat membuat model pemecahan masalah dalam pennanganan limbah.

Ketiga, beberapa industri kertas yang terbukti membuang limbahnya ke sungai harus ekstra di awasi, sehingga tak hanya mengoperasikan IPAL bila ditegur gubernur. Sudah saatnya pemerintah memindahkan industri tersebut ke kota lain.

Keempat, Perlu pembatasan jumlah industri di kawasan bantaran K Surabaya. Munculnya industri di Bambe, Driyorejo dan Legundi di bantaran K Surabaya tahun 1990-an, kini terasa dampak negatifnya.

Kelima, dalam pergantian pemimpin pemerintahan, perlu kriteria pemahaman lingkunganhidup bagi calon legislatif maupun pemimpin daerah.

Agar penyelamatan K Surabaya efektif, perlu ada konsorsium dari beberapa Dati II yang dilalui K Brantas dan K Surabaya untuk mengelola sungai ini dalam satu atap.

Apakah ini tak terlambat ? Tidak. Alam memiliki kemampuan luar biasa dalam pemulihan diri sendiri (self purification). Untuk menciptakan keajaiban di K Surabaya, harus dimulai dari industri tak membuang limbah yang belum diolah ke badan sungai. Selanjutnya, biarlah alam yang mengerjakan.

 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

Limbah industri kertas di Kali Surabaya menyumbangkan 84% limbah cair di kali Surabaya, keberadaan pabrik kertas mendesak untuk direlokasi untuk mengurangi beban pencemaran di kali surabaya
pemanfaatan air yang bijaksana harus mempertimbangkan keadilan antar generasi, jangan sampai eksploitasi terhadap air pada saat ini mengurangi hak generasi mendatang untuk mendapatkan air bersih. ANAKKU MANDI DISUMBER BrANTAS, sumber air kali surabaya
pemantauan limbah industri kertas oleh detektif kali Surabaya

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id