Penantian panjang turunnya hujan diwilayah Kali Surabaya yang meliputi 4 daerah tingkat dua telah berakhir. Jumat Legi 17 Oktober 2003 jam 19.10 WIB hujan deras mengguyur badan air Kali Surabaya hampir satu jam lebih air hujan membasahi bagian-bagian tumbuhan yang rimbun dibantaran Kali Surabaya, sampah-sampah yang bertumpuk dibibir-bibir sungai mulai hanyut menghiasi badan air.
Laronpun meninggalkan sarang bertebaran diantara ribuan bangunan-bangunan yang batal digusur karena ditundanya Raperda pemanfaatan sempadan senin 13 Oktober 2003 lalu.
Ditengah-tengah guyuran hujan ini ada beberapa orang yang menyambutkan dengan suka cita, selain para petani dan Perum Jasa Tirta I yang selama kemarau tahun ini kekurangan pasokan air, pihak yang paling berbahagia mungkin adalah kalangan industriawa di Kali Surabaya, selama musim kemarau ini disadari telah terjadi penurunan jumlah buangan air limbah diKali Surabaya disiang hari. Umumnya untuk menghindari terjadinya penurunan DO (Dissolved Oxygen/Kandungan Oksigen) limbah cair digelontor pada malam hari atau mencapai puncaknya pada malam sabtu (karena sabtu dan minggu terjadi penurunan aktivitas produksi) maka tampungan air limbah selama lima hari ditumpahkan pada malam sabtu.
Jumat ,17 Oktober 2003
Peristiwa kematian missal ikan di Kali Surabaya (iwak munggut) dimulai pada hari Jumat pagi ikan-ikan mulai kelimpungan di kawasan Legundi (Gresik) dan Krian (Sidoarjo), pada siang harinya iwak munggut mulai terasa di Desa Cangkir dan Tanjung sari namun umumnya tidak dijumpai banyak ikan bader, orang-orang banyak memunguti cakung (anak udang air tawar).
Iwake gak onok, singa ake cumin cakunge, Ungkap Mustopa yang getol mengumpulkan cakung hingga satu tak kresek besar.
Pada malam hari hujan deras mengguyur wilayah Surabaya, seketika itu ikan-ikan diwilayah Warugunung mulai menggelepar, mencapai puncaknya pada pukul 02.30 Dini hari diwilayah Sepanjang (Sidoarjo) dan Kebaraon (Surabaya) ikan Keting, Rengkik sebesar paha yang berjumlah ribuan, megap-megap dan dengan muda ditangkapi, sebagian besar orang-orang mendapatkan satu karung beras.
Lumayan Mas, hasil tangkapan kemarin saya jual laku Rp. 45000, cerita Mulyono warga Tawangsari yang malam itu ditemani anak dan istrinya menangkapi ikan munggut dibibir sungai.
Sabtu, 18 Oktober 2003
Ikan munggut rupanya terus berlanjut bahkan kali ini lebih memprihatinkan karena Kali Surabaya beruba menjadi amis dan anyir, rupanya perubahan bau ini disebabkan banyaknya orang-orang yang aktif menangkapi ikan munggut, maklum hari ini adalah hari libur.
Dari liputan team Ecoton pada sabtu siang yang dilakukan bersama-sama detektif lingkungan ribuan penduduk di wilayah Kecamatan Driyorejo dan Kecamatan Krian tumblek blek diKali Surabaya, selain memwaba jala, jarring dan ebor penduduk juga menggunakan ban karet dan perahu sebagai peralatan untuk menangkap ikan.
Jenis-jenis ikan yang ditangkap antara lain Bader putih, bader merah, Keting, Rengkik, khutuk, lele, dan Welut.
Pada pukul 18.00 WIB Ikan munggut bergerak memasuki wilayah Surabaya. Tepat di Depan PDAM Surabaya ratusan orang berjubel untuk menangkap ikan atau sekedar menonton. Dalam satu jam seorang penduduk berhasil membawa 30-50 kg ikan jenis Jendil. Dari hasil tangkapan ini selain dikonsumsi sendiri mereka juga mengaku menjualnya kepada orang yang menonton, tiga ekor Keting sebesar paha orang dewasa dijual dengan harga Rp. 15.000, Dalam beberapa jam Sujak warga KarangPilang berhasil mengumpulkan uang Rp. 125.000 yang dibagi dengan adik dan istrinya.Lumayan Mas, nyemplung tiga jam sudah dapat satus ewu lebih, ungkap Sujak sambil melambaikan lembaran uang sepuluh ribuan.
Tragedi
Diantaran ribuan orang yang bersuka cita, beberapa orang menyesalkan matinya ribuan ikan di Kali Surabaya duahari berturut-turut ini, menurut mereka Ikan-ikan diKali Surabaya beberapa bulan ini jumlahnya melimpah dan merupakan tempat yang menyenangkan untuk memancing dan menjala ikan. Mereka kawatir ikan-ikan yang mati ini tidak akan pernah kembali.
Ikan-ikan diKali Surabaya akhir-akhir ini sudah lumayan banyak, lha kok sekarang ada iwak munggut, kata Dialan Sono yang setiap harinya memiliki kebiasaan memancing ikan disore hari.
Ikan munggut ini menurut masyarakat kemungkinan besar dikarenakan buangan limbah industri. Iki gara-gara limbah pabrik nang Driyorejo amek Mojokerto, Paling, Ungkap Sugeng dengan nada emosi.
Industriwan kemungkinan merasa tak tahan lagi untuk menahan limbah yang telah berbulan-bulan tidak digelotor, dengan mulai turunnya hujan mereka mengira limbah yang akan terbuang akan terencerkan, namun karena yang melakukan pembuangan limbah dikali Surabaya tidak hanya satu atau lima pabrik namun ratusan pabrik maka limbah industri yang dibuang melebihi kapasitas/kemampuan Kali Surabaya untuk mereducenya..
|