27 October 2009 13:03:54
EKSPLOITASI PASIR BRANTAS GUSUR HABITAT IKAN
Eksploitasi Pasir dengan Ponton Mempercepat Kepunahan Ikan Kali Brantas
Aktivitas penambangan Pasir dan kerikil di sepanjang Brantas terutama di Kecamatan Megaluh dan Ploso telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius. Tidak hanya memberikan dampak kerusakan Secara fisik jangka pendek namun pada jangka panjang akan menimbulkan hancurnya ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas

Tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (ecoton) Jawa Timur dan Ecosystem Grant Programme (EGP)The Netherland menemukan kerusakan berupa:

1. Degradasi dasar sungai yang mencapai 4-5 meter sehingga menimbulkan munculnya palung-palung sungai yang sangat dalam

2. Longsornya tebing-tebing sungai sehingga kondisi sungai menjadi keruh dengan tingkat padatan terlarut yang cukup tinggi hal ini sangat berpengaruh pada kualitas air Kali Brantas kondisi ini perlu diwaspadai karena air Kali Brantas digunakan sebagai bahan baku air minum

3. Penyempitan Daerah Aliran sungai, karena ambles dasar sungai dan terus disedot oleh ponton pengeruk pasir dan batu kali

4. Meningkatkan arus air, kondisi ini mengakibatkan meningkatnya daya rusak air sehingga akan menimbulkan erosi dan rusaknya ekosistem sungai serta berpotensi merusak bangunan-bangunan air disepanjang aliran Brantas

5. Meningkatkan suhu air, suhu air dibrantas mencapai 35 derajat Celcius padahal pada kondisi normal suhu air tak lebih dari 29 derajat Celcius

Kerusakan lingkungan sungai ini menimbulkan dampak kerusakan ekologis pada ekosistem Brantas diantaranya

1. Kerusakan habitat dasar yang menimbulkan hilangnya biota-biota penting yang menjadi sumberpakan bagi ikan

2. Berkurangnya populasi dan punahnya jenis ikan-ikan asli air tawar karena kondisi sungai sudah tidak dapat mendukung kehidupan ikan (Kali Brantas sudah tidak bisa menjadi habitat ideal bagi ikan)

3. Meningkatkan resiko menurun infiltrasi air sungai, kondisi ini ditandai dengan hilangnya tradisi budidaya tanaman semusim sepanjang bantaran sungai karena kondisi tanah didaerah sempadan relatif kering dan mengeras.

Hasil investigasi ecoton-EGP Tim investigasi ikan Brantas yang melakukan aktivitas identifikasi jenis-jenis ikan Kali Brantas hanya menemukan 3 jenis ikan yaitu Keting.

Jendil dan Bader dari 25 jenis ikan yang ditemukan disepanjang Kali Brantas kondisi ini menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan sungai yang cukup parah Kali Brantas di Wilayah Kabupaten Jombang , meskipun demikian pada lokasi-lokasi tertentu seperti Desa Brodot Kecamatan bandar kedung mulyo Jombang masih dijumpai beberapa jenis ikan dalam populasi yang besar, hal ini disebabkan kondisi tanggul masih dipenuhi barongan bambu dan vegetasi yang menaungi badan air Kali Brantas.

Dalam investigasi ini ecoton bekerjasama dengan 10 orang nelayan tradisional dari Desa TURI PINGGIR MEGALUH yang sejak tahun 1972 sudah aktif melakukan penangkapan ikan di wilayah Brantas.”Saat ini telah terjadi perubahan sungai yang cukup membuat prihatin karena penambanganpasir dengan sedot pontoon telah mengakibatkan rusaknya aliran Brantas yang membuat ikan-ikan jadi habis,” ujar Muntawi (55th) nelayan Megaluh yang mengeluhkan sedikitnya hasil tangkapan ikan musim ini.

Untuk mengembalikan ikan-ikan yang telah punah dibutuhkan waktu 20 tahun, dan Harus dimulai dengan melakukan moratorium eksploitasi Pasir disepanjang Brantas.

Untuk itu Tim ecoton-EGP mendesak diterbitkannya Perda perlindungan Sungai Brantas, mengingat sungai yang mengalir melalui 17 Kota/Kabupaten ini merupakan sungai strategis nasional
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

Detektif kali Surabaya melakukan inventarisasi keanekaragaman tumbuhan dibantaran kali
Penelitian potensi tumbuhan obat dengan analisis vegetasi
Team detektif kali Surabaya dalam sebuah acara di Jtv Surabaya, mengenalkan misi detektif kali Surabaya

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id